Saya kira penulis buku ini sudah sangat pahit kepada kaum lelaki; barangkali dia sendiri telah tertipu atau telah diperlakukan secara jahat oleh lelaki, atau mungkin rekan-rekannya atau teman-teman telah mengalami kejadian buruk seperti itu. Pendapat watak utama dalam buku ini, seorang gadis yang cerdas, cantik, dan malang, yang akhirnya menjadi pelacur, sangat benci kepada lelaki, tetapi alasannya cukup bagus: dia memang dipukul lelaki, diabaikan lelaki, dan diperbudak lelaki. Terus, tidak mengejutkan bahwa dia bilang, “Untuk menjadi penjahat hanyalah lelaki.”
Gadis ini mulai hidupnya di dusun di Mesir, dengan ibu yang hanya dua mata besar dan bulat, yang terus-menurus memandangnya, dan dengan ayah yang tidak mempedulikan anaknya, apalagi anak perempuan. Lalu, dia tinggal dengan pamannya, yang sesudah waktu berlalu menikah dengan wanita yang tidak suka padanya, dan dia dikirim ke sekolah. Nanti, setelah sudah lulus SMA, dia dikawinkan dengan seorang sheikh yang tua dan jelek; dia patuh perintahnya, tetapi dia masih dipukulnya. Dia melarikan diri dan kemudian menjadi pelacur. Akhirnya, setelah beberapa kejadian lagi yang masih buruk, dia membunuh seorang laki-laki. Karena dia perempuan dan korbannya laki-laki, dia langung dipenjara dan dihukum, berarti digantung.
Ini memang bukan cerita ceriah. Tetapi penulisnya pintar melukis gambaran masyarakyatnya dan negaranya dan keadaan wanita di negeri ini di masa kini. Penulis Nawal el-Saadawi sudah lama menjadi doktor wanita, dan sekarang dia salah satu orang feminis yang paling terkenal di dunia Arab, bagi bukunya maupun bagi pendapatnya dan tingkatannya. Dia memang berbakat menulis, dan adegan-adegan penderitaan wataknya amat mengharukan dan efektif. Dan pengantar Bahasa Indonesia, Mochtar Lubis, memang juga pintar bahasa; sebagai bintang sastra Indonesia dalam abad ke-20, saya tetap percaya pada terjemahannya. Walaupun kucil, buku ini sangat berat: pesannya penting sekali. Seandainya saya bisa membaca buku ini dalam bahasanya yang asli!
No comments:
Post a Comment